TGB dan UAS Tegaskan Posisi Al Albani dalam Ilmu Hadis, UAS: Mereka Termakan Cakap Sendiri
Polemik tentang kedudukan Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam ilmu hadis masih ramai diperbincangkan di media sosial. Perdebatan muncul setelah Ustaz Adi Hidayat menyebut Al-Albani lebih tepat disebut bahits fi al-hadits atau peneliti hadis, bukan muhaddits dalam pengertian yang digunakan oleh ulama hadis terdahulu.
Di tengah polemik tersebut, muncul pandangan dari dua tokoh yang selama ini dikenal memiliki perhatian kuat terhadap tradisi keilmuan Islam, yakni Ketua Umum PB NWDI TGB. Dr. Muhammad Zainul Majdi dan Ustaz Abdul Somad (UAS).
Pandangan keduanya disampaikan dalam sebuah perjalanan dakwah di Lombok pada Ahad, 13 September 2026. Saat itu TGB dan UAS berada dalam satu mobil. Di sela perjalanan, keduanya berbicara mengenai polemik posisi Al-Albani dalam ilmu hadis.
Rekaman percakapan tersebut dibuat oleh HGO Official dan direpost TGB melalui akun media sosialnya pada Ahad malam, 27 September 2026.
Dalam rekaman tersebut, TGB menjelaskan bahwa Al-Albani memang dikenal tekun meneliti hadis, terutama melalui aktivitasnya di perpustakaan. Namun, jika menggunakan standar ulama mutaqaddimin, menurut TGB, aktivitas tersebut belum cukup untuk menempatkan Al-Albani pada derajat muhaddits.
"Jadi memang beliau, Al Albani, tekun di perpustakaan, meneliti kemudian melakukan proses yang menurut beliau anggap baik untuk mentashih kemudian mentadh'if. Dan tentu untuk proses itu, kalau menurut ulama mutaqaddimin, ya memang belum sampai darajatul muhaddits," kata TGB.
"Jadi kalau ada istilah bahitsun fil hadits, jadi ya memang seperti itu," lanjutnya.
TGB kemudian membandingkan metode tersebut dengan tradisi kritik hadis para ulama mutaqaddimin. Ia menyebut nama Imam Abu Hatim, Abu Zur'ah, Imam Bukhari hingga Imam Muslim sebagai rujukan yang lebih kuat dalam persoalan jarh wa ta'dil.
"Dan kalau bicara jarh wa ta'dil itu sebenarnya al mutaqaddimun seperti Imam Abu Hatim, Abu Zur'ah, apalagi Sayyidina Imam Al Bukhori, Sayyidina Imam Muslim, ya tentu lebih pas untuk kita pedomani di dalam menghukum hadis," ujar TGB.
Menurut TGB, persoalan kemudian muncul ketika hasil penelitian Al-Albani dipublikasikan dan menghasilkan sejumlah kesimpulan yang berbeda dengan penilaian ulama yang telah menjadi rujukan utama dalam tradisi hadis.
"Cuma saat beliau, Al-Albani, menerbitkan hasil penelitiannya, itu yang akhirnya menimbulkan pro dan kontra. Karena ada kesimpulan-kesimpulan beliau yang bertentangan ya dengan kesimpulan-kesimpulan para ulama yang muktamad," katanya.
TGB bahkan menyinggung kritik Al-Albani terhadap sejumlah hadis yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
"Termasuk bahkan ada beberapa dari hadis di Shahih Al Bukhori, kemudian di Shahih Muslim yang tidak lepas dari kritik beliau. Padahal kan semua ulama sudah ijma' ala qabul ya ash-shahihain," ujar TGB.
Pandangan senada disampaikan UAS dalam percakapan tersebut.
UAS melihat polemik ini dari sisi lain. Ia menyoroti respons sebagian orang yang menurutnya justru bertentangan dengan prinsip yang selama ini mereka suarakan sendiri, terutama soal larangan fanatisme terhadap tokoh tertentu.
"Sebenarnya fenomena yang terjadi sekarang ini kalau bahasa kampung saya mereka termakan cakap. Termakan cakap itu apa? Yang pernah diomongin dimakan sendiri," kata UAS.
Ia kemudian menyebut sejumlah nama ulama yang menurutnya selama ini sering dijadikan contoh agar umat tidak bersikap fanatik.
"Katanya jangan fanatik kepada Syafii, jangan fanatik kepada Asy'ari, jangan fanatik kepada Nawawi, sekarang terbukti dia sendiri fanatik kepada Albani," ujar UAS.
Bagi UAS, pernyataan Ustaz Adi Hidayat mengenai Al-Albani juga perlu dilihat secara utuh. Menurutnya, istilah yang digunakan bukan untuk menjatuhkan Al-Albani, melainkan menempatkannya sebagai bahits hadis.
"Padahal yang dikatakan oleh Ustaz Adi Hidayat itu kan hanya bukan muhaddits, tapi bahits hadis. Itu bukan omongan Ustaz Adi Hidayat," kata UAS.
UAS kemudian menyebut bahwa istilah serupa juga pernah dinisbatkan kepada Syekh Muqbil Al-Wadi'i.
"Syekh Muqbil Al-Wadi'i mengatakan, minassalafi walaisa muhaddisan bal kaana bahitsan lil hadis," ujarnya.
UAS juga menyebut adanya pernyataan Al-Albani sendiri ketika ditanya mengenai statusnya sebagai muhaddits.
"Bahkan beliau, Al-Albani, ketika ditanya, 'Hal anta muhaddits ya Syekh?' 'La, ana bahits.' Dia sendiri ngaku," kata UAS.
Karena itu, UAS meminta publik melihat pernyataan Ustaz Adi Hidayat secara utuh, bukan berdasarkan potongan video yang beredar.
"Tontonlah video Ustaz Adi Hidayat itu dari awal sampai akhir. Tidak ada mengejek, tidak ada menjatuhkan. Dia hanya mengatakan, ini bukan muhaddits, tapi bahits hadis," ujar UAS.
Menurut UAS, perdebatan tersebut justru terus berlanjut meskipun substansi pernyataan yang dipersoalkan relatif sederhana.
"Tapi serangannya gak selesai-selesai sampai sehari sebelum kiamat," katanya.
Di bagian akhir, UAS kembali menggunakan istilah yang sejak awal ia sebut sebagai gambaran terhadap fenomena tersebut.
"Itu sebenarnya Allah ingin menunjukkan apa? Allah ingin menunjukkan hakikat yang mengaku sebagai salaf, yang mengaku sebagai ahli tauhid, yang mengaku mengatakan jangan fanatik, yang mengaku jangan mengejek orang, oh terjadi semua sekarang. Termakan cakap itu namanya," ujar UAS. (admin Fans Dr. TGB)
Komentar Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!