Pentingnya Belajar Asbabun Nuzul Dalam Memahami al Qur'an
Hidup di zaman Nabi Muhammad SAW dan menyaksikan langsung turunnya wahyu bukan berarti seseorang otomatis terbebas dari kekeliruan dalam memahami Al-Qur’an. Pesan tersebut disampaikan Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi melalui akun media sosialnya, Rabu (5/8/2026).
“Hidup di masa Nabi dan menyaksikan wahyu turun langsung bukan jaminan tidak akan salah dalam memahami Al-Quran. Hal ini dapat kita lihat dari kisah sahabat, salah satunya Qudamah bin Mazh'un,” tulis TGB.
TGB kemudian menceritakan bagaimana Qudamah bin Mazh’un pernah mendapatkan teguran keras dari Khalifah Umar bin Khattab karena keliru memahami QS Al-Maidah ayat 93. Menurut TGB, kekeliruan tersebut terjadi karena ayat dipahami secara literal dengan mengabaikan konteks dan asbabun nuzul atau latar belakang turunnya ayat.
“Khalifah Umar berkata: Engkau telah salah memahami ayat itu wahai Qudamah, jika engkau bertaqwa kepada Allah, engkau pasti menjauhi apa yang diharamkan,” tulisnya.
Bagi TGB, kisah tersebut memberikan pelajaran penting bahwa memahami Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan membaca teks kemudian mengambil kesimpulan berdasarkan makna harfiahnya. Ada konteks, sebab turunnya ayat, serta perangkat keilmuan yang perlu diperhatikan agar pesan Al-Qur’an tidak dipahami secara keliru.
“Begitulah respon tegas khalifah Umar terhadap Qudamah yang memahami ayat hanya berdasarkan pada pemahaman literal dan mengabaikan asbabun nuzulnya,” jelas TGB.
Namun, Doktor Tafsir al Qur'an Universitas Al Azhar Mesir itu menegaskan bahwa kisah Qudamah tersebut tidak dimaksudkan untuk merendahkan para sahabat Rasulullah SAW. Justru sebaliknya, kisah itu menjadi pengingat bahwa kekeliruan dalam memahami Al-Qur’an bahkan dapat terjadi pada generasi yang hidup paling dekat dengan Rasulullah SAW.
“Kisah ini disampaikan bukan untuk merendahkan sahabat Rasulullah SAW., tapi untuk menunjukkan bahwa kesalahpahaman terhadap al-Qur'an bahkan bisa terjadi di era sahabat, apalagi di zaman kita saat ini,” tulis TGB.
Pesan tersebut sekaligus menjadi teguran bagi umat Islam pada masa sekarang. Jika seorang sahabat yang hidup di era Nabi dan menyaksikan langsung proses turunnya wahyu masih mungkin keliru memahami sebuah ayat, maka umat Islam yang hidup sekitar 14 abad setelah masa kenabian tentu harus lebih berhati-hati.
“Jika sahabat saja bisa salah dalam memahami Al-Quran, apalagi kita 14 abad kemudian yang kadang hanya mengandalkan terjemahan dan pemahaman tekstual,” tegas TGB.
Dalam konteks inilah Rektor IAIH Pancor itu menekankan pentingnya ilmu Asbabun Nuzul. Memahami latar belakang turunnya ayat membantu seseorang melihat sebuah ayat dalam konteks yang tepat sehingga tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan hanya berdasarkan bunyi literalnya.
“Di sinilah letak krusialnya ilmu Asbabun Nuzul. Tanpa pemahaman terhadap keilmuan Al-Quran ini dan dibarengi dengan kepakaran ilmu dan bimbingan ulama, semangat beragama yang tinggi bisa berujung pada kesesatan,” tulis TGB.
Peringatan tersebut menjadi penting di tengah derasnya arus informasi keagamaan. Tidak sedikit orang yang merasa cukup memahami persoalan agama hanya karena menemukan terjemahan ayat atau membaca satu penjelasan di media sosial. Padahal, memahami Al-Qur’an membutuhkan perangkat ilmu yang luas dan tidak bisa dilepaskan dari penjelasan para ulama yang memiliki kepakaran di bidangnya.
“Semangat tadabbur kita tidak boleh lepas dari keilmuan al Qur'an serta penghormatan terhadap kepakaran dan penjelasan ulama,” pungkas TGB. (Admin Fans Dr. TGB)
Komentar Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!