Pandangan TGB Soal Tradisi Tahlilan Untuk Orang Mati
Tradisi tahlilan dan peringatan hari-hari tertentu setelah seseorang wafat, seperti 3 hari, 7 hari, 9 hari, hingga 40 hari, kerap menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Sebagian mempertanyakannya, sementara sebagian lainnya menganggapnya sebagai tradisi yang telah lama hidup di kalangan umat Islam Indonesia.
Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi (TGB), memandang tradisi tersebut sebagai bagian dari budaya masyarakat muslim yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam selama diisi dengan amalan-amalan yang dianjurkan syariat.
Menurut TGB, peringatan 9 hari maupun hari-hari lainnya setelah seseorang meninggal dunia merupakan adat dan tradisi yang berkembang di tengah masyarakat muslim di Indonesia.
"Peringatan 9 hari adalah adat dan tradisi masyarakat muslim di tanah air. Peringatan ini biasanya diisi dengan membaca Al-Qur'an, doa, zikir dan istigfar untuk almarhum," Tulis TGB di akun media sosialnya, Rabu, (15/07/2026).
Doktor Tafsir al Qur'an Universitas al Azhar Mesir itu menjelaskan bahwa berkumpul untuk mendoakan orang yang telah meninggal pada hari ke-3, ke-7, ke-9, atau ke-40 bukan berarti umat Islam meyakini hari-hari tersebut memiliki keutamaan khusus yang ditetapkan agama.
Menurutnya, doa untuk orang yang telah wafat dapat dipanjatkan kapan saja tanpa dibatasi oleh waktu tertentu.
"Kumpul pada hari-hari tertentu setelah wafatnya seseorang untuk mendoakan seperti 3, 7, 9, 40 hari bukan berarti mengistimewakan hari-hari tersebut. Karena berdoa bisa dilakukan kapan saja," jelasnya.
Rektor IAIH Pancor itu kemudian memberikan analogi sederhana agar masyarakat lebih mudah memahami persoalan tersebut. Ia menilai penentuan hari tertentu dalam tahlilan lebih merupakan bentuk pengaturan waktu agar keluarga, kerabat, dan masyarakat dapat berkumpul bersama untuk beribadah.
"Analognya seperti menjadwalkan kajian setiap hari Selasa atau Rabu. Tujuannya untuk pengaturan bukan mengistimewakan hari-hari tertentu. Atau seseorang merutinkan untuk membaca Al-Qur'an setiap selesai salat asar. Bukan berarti mengistimewakan waktu setelah asar namun hanya sebatas pengaturan pribadi," terang TGB.
Karena itu, kata mantan gubernur NTB 2 periode itu, yang menjadi inti dari tradisi tersebut bukanlah penetapan harinya, melainkan isi kegiatan yang dilakukan di dalamnya.
TGB menjelaskan bahwa banyak ulama membolehkan tradisi tahlilan karena kegiatan yang dilakukan merupakan ibadah-ibadah yang bersifat umum (ibadah mutlak), yakni amalan yang dapat dilaksanakan kapan saja tanpa terikat waktu tertentu.
"Mengapa tradisi ini dibolehkan oleh banyak ulama? Karena tradisi ini terkait ibadah yang sifatnya umum yang bisa dilakukan kapan saja. Seperti berzikir, membaca Al-Qur'an dan berdoa," ungkapnya. (Admin Fans Dr. TGB)
saya setuju karena melakukannya bagi yangbtidak melakukan silahkan saja jangan ribut