Uneg-Uneg “Pak Gendut” dan Rangkulan Hangat TGB di Ponpes ABW Bunkate Lombok Tengah
Ada satu pemandangan yang cukup berkesan bagi penulis dalam sesi dialog Ketua Umum PB NWDI TGB. Dr. Muhammad Zainul Majdi dengan jamaah pada acara pengarahan dan serah terima Pondok Pesantren Abul Barokat Wannafahat, Bunkate, Lombok Tengah, Jumat, 25 September 2026.
Seorang warga sekitar pondok, laki-laki bertubuh tinggi dan tegap, berdiri menyampaikan sejumlah uneg-uneg kepada TGB yang kini menjadi pengelola baru pesantren tersebut.
Cara bicaranya keras. Nada suaranya tinggi. Kalimat demi kalimat disampaikan dengan berapi-api.
Bagi sebagian jamaah, cara itu terlihat cukup mengusik. Ada yang terlihat geram melihat TGB seperti sedang dibentak di hadapan banyak orang.
TGB tidak membalas.
Ia tetap duduk di tengah jamaah. Sesekali tersenyum. Tidak terlihat upaya memotong pembicaraan ataupun membalas nada tinggi tersebut.
Dalam suasana seperti itu, TGB kemudian meminta laki-laki tersebut mendekat.
Laki-laki itu pun berjalan menuju TGB.
TGB mengulurkan tangan, menjabat tangannya, lalu merangkulnya.
Tensi yang sebelumnya meninggi seketika melunak. Suasana yang semula tegang berubah menjadi lebih cair.
Laki-laki yang memperkenalkan dirinya dengan nama Pak Gendut itu masih melanjutkan uneg-unegnya. Tetapi kali ini ia duduk tepat di samping kanan TGB. Sembari mengeluarkan keluh kesahnya, TGB beberapa kali mengelus pundaknya.
Suara Pak Gendut yang sebelumnya tinggi perlahan menjadi lebih lunak. TGB bahkan memberikan apresiasi atas apa yang disampaikan warga tersebut.
Pemandangan sederhana itu menyimpan pelajaran yang sangat bermakna.
Kemuliaan adab dan sikap yang santun ternyata dapat melunakkan suara-suara yang keras.
Tidak setiap suara keras harus dijawab dengan suara keras. Tidak setiap kritik harus dibalas dengan pembelaan diri. Dan tidak setiap orang yang datang dengan emosi sedang datang untuk memusuhi.
Bisa jadi, di balik suara yang meninggi terdapat kegelisahan yang sebenarnya hanya ingin didengar.
TGB memilih mendekat ketika situasi bisa saja membuat seseorang memilih menjaga jarak. Ia memilih merangkul ketika orang lain mungkin memilih membalas. Ia memilih menenangkan ketika suasana sedang meninggi.
Sikap seperti ini mengingatkan penulis kepada kisah yang pernah dialami oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Suatu ketika Rasulullah SAW sedang duduk bersama para sahabat di masjid. Tiba-tiba seorang Arab Badui masuk dan melakukan sesuatu yang membuat para sahabat terkejut: ia buang air kecil di salah satu sudut masjid.
Para sahabat tentu marah. Mereka hendak mencegahnya agar air kencing tidak semakin mengotori masjid.
Namun Rasulullah SAW justru meminta para sahabat untuk membiarkannya menyelesaikan hajatnya.
Setelah hajat orang tersebut selesai, Rasulullah SAW tidak mempermalukannya. Nabi Muhammad SAW meminta agar bekas air kencing itu disiram dengan air.
Kisah tersebut menunjukkan bagaimana Rasulullah SAW menghadapi situasi yang tidak menyenangkan tanpa kehilangan ketenangan dan kejernihan.
Beliau tidak membiarkan kesalahan berlalu begitu saja. Tetapi cara memperbaikinya tetap mempertimbangkan keadaan orang yang melakukan kesalahan.
Dalam konteks peristiwa yang dialami TGB, barangkali, di situlah letak pelajaran terbesar dari keteladanan yang dicontohkan oleh TGB.
Kita sering mengira bahwa untuk membuat orang lain mendengar, kita harus berbicara lebih keras. Ketika dikritik, kita merasa harus segera membela diri. Ketika disalahkan, kita terdorong untuk menunjukkan bahwa kita juga punya alasan.
Padahal, tidak semua persoalan selesai dengan memenangkan perdebatan.
Ada kalanya seseorang justru luluh bukan karena argumen yang panjang, tetapi karena diperlakukan dengan baik. Bukan karena dibungkam, tetapi karena didengarkan. Bukan karena dilawan, tetapi karena didekati.
Apa yang dilakukan TGB di hadapan warga tersebut mungkin terlihat sederhana: diam, mendekat, menjabat tangan, merangkul, lalu mendengarkan.
Namun justru kesederhanaan itulah yang sering sulit kita lakukan.
Sebab menahan diri ketika emosi sedang tinggi membutuhkan kekuatan dan kesabaran tingkat tinggi. Mendengarkan ketika merasa diserang membutuhkan kelapangan hati. Dan merangkul orang yang sedang marah membutuhkan kebesaran jiwa.
Mungkin karena itu, pelajaran dari peristiwa tersebut bukan hanya tentang bagaimana seorang pemimpin menghadapi kritik. Lebih jauh, ini tentang bagaimana kita memperlakukan sesama manusia ketika mereka datang kepada kita dalam keadaan marah, kecewa, atau penuh kegelisahan.
Sebab bisa jadi, orang yang suaranya paling keras bukanlah orang yang paling ingin bermusuhan. Bisa jadi ia hanya sedang membawa keresahan yang belum menemukan tempat untuk didengar.
Dan terkadang, satu jabat tangan, satu rangkulan, serta kesediaan untuk mendengarkan jauh lebih kuat daripada seribu kalimat pembelaan.
Sebab mungkin, orang lain tidak selalu membutuhkan kita untuk memenangkan perdebatan. Kadang mereka hanya ingin diyakinkan bahwa kegelisahan mereka didengar, bahwa keberadaan mereka dihargai, dan bahwa meskipun berbeda pandangan, mereka tetap diperlakukan sebagai manusia yang layak dihormati. (Admin Fans Dr. TGB)
Komentar Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!