Beranda Video TGB Profil TGB

Inilah Pesan Penting TGB di Musywil II NWDI NTB

A
Admin Kontributor Warta
85 Dilihat
Inilah Pesan Penting TGB di Musywil II NWDI NTB

Lombok Utara — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (PB NWDI), Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, mengingatkan kader NWDI agar tidak merasa dirinya tidak penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Menurut TGB, setiap manusia memiliki peran dalam sejarah dan memiliki kesempatan untuk memberikan kontribusi bagi kehidupan. Karena itu, kader NWDI tidak seharusnya membatasi diri dalam memberikan manfaat.

"Kadang manusia itu menjadi minim kontribusinya karena dia menganggap dirinya tidak penting. Padahal, manusia itu semuanya penting. Semuanya aktor yang Allah Ta’ala letakkan di dalam sejarah untuk membangun, untuk menjalankan sunnatullah di atas dunia ini," ungkap TGB dalam pidatonya pada acara Musyawarah Wilayah NWDI II Provinsi Nusa Tenggara Barat di Tanjung, Lombok Utara, Ahad, 6 September 2026.

TGB juga mengingatkan agar energi kader tidak habis pada persoalan-persoalan prosedural organisasi. Menurutnya, hal-hal yang bersifat prosedural cukup diselesaikan sesuai rukun dan syaratnya sehingga perhatian utama dapat diarahkan pada program dan kerja nyata.

"Di dalam ber-NWDI itu, ada tuntunan dari almaghfurlah bahwa untuk hal-hal yang prosedural, itu cukupkan rukun dan syaratnya. Tidak usah terlalu berpanjang-panjang. Energi bukan untuk memperdebatkan siapa yang menjadi pemimpin kita. Lalu setelah itu, habis energi kita," ujarnya.

Ia menegaskan, forum organisasi seperti musyawarah wilayah (musywil) bukanlah tujuan akhir. Setelah proses organisasi selesai, kader harus segera menjalankan program yang telah disepakati bersama.

"Energi bukan untuk menyelenggarakan musywil saja. Tetapi energi yang utama adalah setelah musywil ini, mari kita laksanakan program-program yang telah kita sepakati," tegasnya.

TGB menjelaskan, NWDI merupakan wadah pendidikan sekaligus perjuangan yang memiliki nilai dasar tarbiyah. Pendidikan, kata TGB, tidak hanya bertujuan membentuk pribadi yang baik, tetapi juga manusia yang memiliki kemauan untuk memperbaiki keadaan di sekitarnya.

"NWDI ini adalah wadah pendidikan. Ini wadah perjuangan yang nilai dasarnya itu adalah tarbiyah. Dalam konteks Islam itu, apa esensi dari pendidikan? Kalau kata ulama, yang pertama adalah membangun manusia yang baik dan bisa memperbaiki," katanya.

Rektor IAIH Pancor itu menyebut konsep tersebut sebagai ash-shalih wal-muslih, yakni menjadi pribadi yang baik sekaligus memiliki kemampuan dan kemauan untuk memberikan perbaikan.

"Jadi, tidak hanya ash-shalih, tapi juga al-muslih," ujar TGB.

Menurutnya, fondasi utama untuk menjadi pribadi yang baik adalah memahami posisi diri sebagai hamba Allah. Kesadaran tersebut akan menjadi dasar seseorang dalam membangun hubungan yang baik dengan sesama manusia.

"Apa bentuknya ash-shalih wal-muslih itu? Yaitu dia tahu dia hamba Allah. Orang yang bisa memosisikan dirinya dan mengerti statusnya sebagai hamba Allah, itu jadi landasan pertama jadi orang baik," jelasnya.

Doktor Tafsir Al Qur'an Universitas al Azhar Mesir itu menambahkan, kesadaran sebagai hamba Allah akan mendorong seseorang untuk mencintai kebaikan dan memberikan manfaat bagi orang lain. Sebaliknya, seorang hamba tidak seharusnya melakukan tindakan yang merusak ataupun memberikan mudarat kepada diri sendiri dan orang lain.

"Kalau dia tahu dia hamba Allah, maka dia akan berusaha menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain. Kenapa? Karena Allah sendiri yang minta. Tuhannya sendiri yang meminta jangan sekali-kali berbuat destruktif. Jangan sekali-kali merusak bumi Allah. Jangan sekali-kali mencelakai orang. Jangan sekali-kali membuat mudarat, ke diri sendiri ataupun kepada orang lain," tutur TGB.

TGB juga mengaitkan nilai tersebut dengan teladan yang ditanamkan almaghfurlah TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Menurut TGB, perjuangan untuk membangun Indonesia tidak pernah dilepaskan dari kontribusi sang pendiri NWDI.

"Inilah yang almaghfurlah tanamkan untuk kita. Itu sebabnya, tidak pernah ada ketika ikhtiar untuk membangun Indonesia, kecuali almaghfurlah selalu ikut di situ," katanya.

Mantan gubernur NTB 2 periode itu mencontohkan keterlibatan almaghfurlah Maulansyekh dalam ruang struktural kenegaraan. Salah satunya ketika beliau diminta menjadi anggota Konstituante dan mewakili Partai Masyumi untuk ikut berbicara mengenai masa depan Indonesia.

"Kalau memang diperlukan untuk berkontribusi di ranah struktural, beliau ikut. Dulu beliau diminta untuk menjadi anggota Konstituante. Beliau ikut. Beliau mewakili Partai Masyumi berbicara bagaimana merumuskan Indonesia ke depan," ujar TGB.

Dari keteladanan tersebut, TGB mengajak seluruh kader NWDI untuk tidak menolak ketika dibutuhkan dalam berbagai ruang pengabdian.

"Pelajaran yang bisa kita ambil adalah bahwa beliau mengajarkan kita bahwa di mana pun dibutuhkan kader NWDI untuk membangun Indonesia, dia tidak boleh mengatakan tidak. Apa pun ruang perkhidmatan yang ada, isi," tegasnya.

Selain semangat kontribusi, TGB juga menekankan pentingnya nilai keterbukaan yang diajarkan almaghfurlah. Menurutnya, perbedaan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun hubungan dan bekerja bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Almaghfurlah mengajarkan di NWDI itu ada nilai keterbukaan. Maka biasa almaghfurlah itu bersilaturahmi dengan yang berbeda. Berbeda di antara internal umat Islam, ataupun antara Muslim dan non-Muslim," katanya.

TGB menegaskan bahwa perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat tidak perlu dipertentangkan, terutama dalam konteks muamalah dan kehidupan berbangsa serta bernegara.

"Tidak pernah dipertentangkan perbedaan itu dalam konteks muamalah, yaitu kehidupan berbangsa dan bernegara. Semua kita memiliki Indonesia, semua kita memiliki NTB. Mari kita sama-sama bekerja," pungkasnya. (Admin Fans Dr. TGB)

Komentar Pembaca

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!